Minggu, 12 Desember 2010

Berinvestasi Dinar

Semula banyak orang memilih untuk memegang mata uang negara-negara asing, seperti dolar AS atau pun euro yang memiliki nilai tukar yang tinggi di pasar valuta asing. Kebanyakan dari mereka memilih mata uang asing tersebut karena tingkat kepercayaan yang rendah terhadap mata uang dalam negeri, yaitu rupiah. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa rupiah mudah sekali terdevaluasi, terlebih pasca krisis moneter satu dasawarsa yang lalu (1998). Nilai mata uang rupiah melemah, terlebih pada dolar AS yang pada saat itu melambung tinggi hingga mencapai Rp 20.000,00 per dolar.
Namun benarkah kejayaan dolar AS akan terus bertahan dalam waktu yang lama?Jawabannya tidak. Pada saat ini banyak yang mengeluhkan nilainya yang juga cenderung tidak stabil dan mengalami penurunan. Pada masa krisis global saat ini, nilai tukarnya memang sedang tinggi. Akan tetapi hal ini terjadi lebih karena dolar AS langka di pasaran karena ditarik ke negara asalnya untuk mengatasi persoalan ekonomi yang sedang terjadi di negaranya.
Lalu bagaimana dengan mata uang Euro yang diperkirakan akan berjaya?Euro adalah mata uang yang digunakan oleh beberapa negara Eropa. Euro dianggap sebagai mata uang Uni Eropa pada saat ini. Untuk saat ini Euro memang dianggap lebih stabil dibandingkan dengan dolar AS. Namun apakah ada jaminan bahwa apa yang terjadi pada dolar AS tidak akan terjadi pada Euro nantinya?
Perlu diketahui bahwa mata uang dari negara atau perserikatan negara mana pun sangat rentan terhadap penurunan nilai, sekalipun mata uang tersebut berasal dai negara kuat seperti Amerika. Hal itu terjadi karena jenis uang yang mereka pergunakan adalah uang fiat. Uang fiat rentan terhadap penurunan nilai karena nilai nominalnya tidak sebanding dengan nilai fisiknya. Lalu apakah ada mata uang yang “aman” terhadap penurunan nilai.
Kalaupun ada, jawabannya adalah Dinar. Dinar memiliki nilai yang stabil sepanjang masa. Bayangkan saja, nilai satu dinar sekarang, yaitu 4,25 gram emas 22 karat adalah sama persis dengan satu dinar pada zaman khalifah Umar Bin Khattab. Hal itu terjadi karena nilai nominal sama dengan nilai intristiknya.
Bahkan nilai tukar Dinar terhadap uang fiat terus meningkat. Akan tetapi sebenarnya bukan Dinar yang meningkat, tetapi nilai uang fiat yang teris melemah. Misalkan saja pada nilai satu Dinar pada bulan Februari 2009 telah mencapai kisaran Rp.1.600.000, bandingkan dengan nilai mata uang ini pada saat November 2008 yang mencapai Rp.1.300.000. Hal ini berarti hanya dalam waktu tiga bulan nilainya bisa naik hampir 30%.
Hal itu hanya untuk hitungan jangka pendek. Dalam jangka panjang, kita akan memperoleh data yang mencengangkan. Trend harga Dinar dalam satu decade ternyata naik sekitar 433,11% (Gerai Dinar, 2009). Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa investasi Dinar memang cocok untuk investasi jangka panjang atau investasi jangka pendek dengan rentang minimal enam bulan sampai setahun. Jadi jangan tergoda untuk melepaskan Dinar dalam jangka waktu yang relatif pendek karena sewaktu-waktu nilainya juga akan terus meningkat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar