Ada 5 cara mengukur diri sendiri, yaitu memperbanyak tafakur diri, mempunyai cermin diri, berguru pada yang ahli, memanfaatkan orang yang membenci kita, dan tafakuri hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Karena pada saat ceramah, saya datang terlambat, maka 5 poin yang akan saya uraikan mungkin tidak akan membuat teman-teman puas. Oleh karena itu sebelumnya saya mohon maaf atas segala keterbatasan yang ada.
1. Memperbanyak tafakur diri.
Tafakur adalah perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Hasil tafakur kita merupakan penyaksian terhadap kebesaran-Nya yang diperlihatkan kepada jiwa dan kerohanian kita secara zhahir dan batin untuk kemudian kita aktualisasikan dan amalkan sebagai suatu pengabdian suci kepada Allah SWT. Dapat kita katakana bahwa kebaikan dunia dan agama tergantung pada kesempurnaan tafakkur. Ali bin Abi Thalib ra. telah berkata, “Tidak ada ibadah sepenting tafakur“. Orang bijak mengatakan, “Bertafakur adalah pelita kalbu. Bila ia pergi tiada lagi cahaya yang meneranginya“.(Buletin Mimbar Jum’at No. 43 Th. XXII - 24 Oktober 2008). Salah satu contoh tafakur adalah menyendiri dan introspeksi pada apa-apa yang sudah kita lakukan. Menyadari setiap kesalahan yang sudah kita lakukan, agar ke depannya kita mampu berbuat lebih baik.
2. Milikilah cermin diri. Maksudnya disini adalah jadikanlah sahabat dan orang-orang terdekat kita sebagai pengingat kita ketika kita melakukan kesalahan. Jadikanlah mereka sebagai cermin diri kita. Ibarat cermin yang mempunyai fungsi untuk memperlihatkan kesalahan pada tampilan rupa kita, mintalah mereka untuk memperlihatkan kesalahan-kesalahan kita. Pada hakikatnya cermin selalu memperlihatkan apa yang ada pada diri kita. Kalaupun apa yang terlihat pada diri kita buruk atau janggal, maka kita bisa memperbaikinya bukan. Begitu pula sahabat ataupun orang sekitar kita. Dengan hakikat cermin tadi, maka setiap kesalahan yang telah diingatkan,bisa kita perbaiki.
3. Berguru pada yang ahli. Bergurulah pada yang ahli, seperti ulama maupun para cendikia ataupun orang yang kita anggap lebih baik dari kita untuk bisa kita jadikan acuan agar bisa memperbaiki dan memperbaharui sikap dan perbuatan kita. Cara lain yang bisa kita lakukan adalah dengan sering datang ke majlis ta'lim atau maj'lis ilmu yang ada.
4. Manfaatkan orang yang membenci kita. Orang yang membenci kita akan dengan sangat tulus mengkritik dan mengkoreksi apa yang kita lakukan. Bahkan mereka mempunyai keikhlasan untuk menyelidiki keburukan kita. Setiap kritikan yang mereka lontarkan, hendaknya menjadi suatu introspeksi bagi diri kita untuk memperbaiki diri. Tidak usah melihat mereka sebagai musuh kita, sehingga kita mengabaikan apa yang mereka katakan tentang kita. Kuncinya disini adalah kita tidak usah membela diri. Cukup dengarkan, bertobat, dan perbaiki diri.
5. Tafakuri banyak kejadian yang terjadi. Ambil contoh kasus di sekitar kita, misalkan kasus cicak vs buaya yang sekarang sedang marak dibicarakan. Lalu ambil sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri kita untuk memperbaiki diri. Setiap kejadian yang ada, hendakya dijadikan sebagai bahan evaluasi diri, bukan hanya untuk dibicarakan atau dikomentari dengan negatif saja. Banyak kejadian yang bisa dijadikan pelajaran hidup.
Selain 5 poin di atas,ada hal lain yang harus kita prioritaskan. Kita harus bisa membersihkan diri kita. Bulatkan hati kita agar tidak menggantungkan dan berharap terlalu banyak pada manusia. Jika kita mau sesuatu, mintalah dulu pada Allah, karena hanya Allah lah satu-satunya penolong. Allah lah Dzat Maha Kaya yang mengatur rejeki kita. Jadi mintalah pada Allah agar kita bisa memperoleh harta yang bersih dan terhindar dari dosa. Putuskan hati kita dari keinginan dihargai dan dihormati orang lain. Kita hanya akan lelah jika harus melakukan sesuatu karena berharap pujian dan pengakuan dari manusia. Rugi, karena tidak ada nilainya di mata Allah. Cukup perbuat hal yang baik dan lupakan. Lillahi Ta'alla.
Demikian isi ceramah Aa Gym yang disampaikan beliau pada hari Minggu 8 November 2009 di Mesjid Istiqlal Jakarta. Bila ada kekurangan mengenai apa yang saya sampaikan, saya mohon maaf, karena kebenaran itu datang dari Allah, dan kesalahan itu mutlak datang dari diri saya sendiri.Wslm.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar