Senin, 13 Desember 2010
Secret of Life: Syariah vs Konvensional
Secret of Life: Syariah vs Konvensional: "Sebenarnya apa yang membedakan sistem perbankan syariah dan konvensional?Apakah hanya dari segi akad (perjanjian)??Mangapa perbankan syariah..."
Minggu, 12 Desember 2010
Secret of Life: 5 cara mengukur diri (K.H Abdullah Gymnastiar)
Secret of Life: 5 cara mengukur diri (K.H Abdullah Gymnastiar): "Ada 5 cara mengukur diri sendiri, yaitu memperbanyak tafakur diri, mempunyai cermin diri, berguru pada yang ahli, memanfaatkan orang yang ..."
Secret of Life: Berinvestasi Dinar
Secret of Life: Berinvestasi Dinar: "Semula banyak orang memilih untuk memegang mata uang negara-negara asing, seperti dolar AS atau pun euro yang memiliki nilai tukar yang ti..."
Berinvestasi Dinar
Semula banyak orang memilih untuk memegang mata uang negara-negara asing, seperti dolar AS atau pun euro yang memiliki nilai tukar yang tinggi di pasar valuta asing. Kebanyakan dari mereka memilih mata uang asing tersebut karena tingkat kepercayaan yang rendah terhadap mata uang dalam negeri, yaitu rupiah. Kebanyakan dari mereka menganggap bahwa rupiah mudah sekali terdevaluasi, terlebih pasca krisis moneter satu dasawarsa yang lalu (1998). Nilai mata uang rupiah melemah, terlebih pada dolar AS yang pada saat itu melambung tinggi hingga mencapai Rp 20.000,00 per dolar.
Namun benarkah kejayaan dolar AS akan terus bertahan dalam waktu yang lama?Jawabannya tidak. Pada saat ini banyak yang mengeluhkan nilainya yang juga cenderung tidak stabil dan mengalami penurunan. Pada masa krisis global saat ini, nilai tukarnya memang sedang tinggi. Akan tetapi hal ini terjadi lebih karena dolar AS langka di pasaran karena ditarik ke negara asalnya untuk mengatasi persoalan ekonomi yang sedang terjadi di negaranya.
Lalu bagaimana dengan mata uang Euro yang diperkirakan akan berjaya?Euro adalah mata uang yang digunakan oleh beberapa negara Eropa. Euro dianggap sebagai mata uang Uni Eropa pada saat ini. Untuk saat ini Euro memang dianggap lebih stabil dibandingkan dengan dolar AS. Namun apakah ada jaminan bahwa apa yang terjadi pada dolar AS tidak akan terjadi pada Euro nantinya?
Perlu diketahui bahwa mata uang dari negara atau perserikatan negara mana pun sangat rentan terhadap penurunan nilai, sekalipun mata uang tersebut berasal dai negara kuat seperti Amerika. Hal itu terjadi karena jenis uang yang mereka pergunakan adalah uang fiat. Uang fiat rentan terhadap penurunan nilai karena nilai nominalnya tidak sebanding dengan nilai fisiknya. Lalu apakah ada mata uang yang “aman” terhadap penurunan nilai.
Kalaupun ada, jawabannya adalah Dinar. Dinar memiliki nilai yang stabil sepanjang masa. Bayangkan saja, nilai satu dinar sekarang, yaitu 4,25 gram emas 22 karat adalah sama persis dengan satu dinar pada zaman khalifah Umar Bin Khattab. Hal itu terjadi karena nilai nominal sama dengan nilai intristiknya.
Bahkan nilai tukar Dinar terhadap uang fiat terus meningkat. Akan tetapi sebenarnya bukan Dinar yang meningkat, tetapi nilai uang fiat yang teris melemah. Misalkan saja pada nilai satu Dinar pada bulan Februari 2009 telah mencapai kisaran Rp.1.600.000, bandingkan dengan nilai mata uang ini pada saat November 2008 yang mencapai Rp.1.300.000. Hal ini berarti hanya dalam waktu tiga bulan nilainya bisa naik hampir 30%.
Hal itu hanya untuk hitungan jangka pendek. Dalam jangka panjang, kita akan memperoleh data yang mencengangkan. Trend harga Dinar dalam satu decade ternyata naik sekitar 433,11% (Gerai Dinar, 2009). Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa investasi Dinar memang cocok untuk investasi jangka panjang atau investasi jangka pendek dengan rentang minimal enam bulan sampai setahun. Jadi jangan tergoda untuk melepaskan Dinar dalam jangka waktu yang relatif pendek karena sewaktu-waktu nilainya juga akan terus meningkat.
Namun benarkah kejayaan dolar AS akan terus bertahan dalam waktu yang lama?Jawabannya tidak. Pada saat ini banyak yang mengeluhkan nilainya yang juga cenderung tidak stabil dan mengalami penurunan. Pada masa krisis global saat ini, nilai tukarnya memang sedang tinggi. Akan tetapi hal ini terjadi lebih karena dolar AS langka di pasaran karena ditarik ke negara asalnya untuk mengatasi persoalan ekonomi yang sedang terjadi di negaranya.
Lalu bagaimana dengan mata uang Euro yang diperkirakan akan berjaya?Euro adalah mata uang yang digunakan oleh beberapa negara Eropa. Euro dianggap sebagai mata uang Uni Eropa pada saat ini. Untuk saat ini Euro memang dianggap lebih stabil dibandingkan dengan dolar AS. Namun apakah ada jaminan bahwa apa yang terjadi pada dolar AS tidak akan terjadi pada Euro nantinya?
Perlu diketahui bahwa mata uang dari negara atau perserikatan negara mana pun sangat rentan terhadap penurunan nilai, sekalipun mata uang tersebut berasal dai negara kuat seperti Amerika. Hal itu terjadi karena jenis uang yang mereka pergunakan adalah uang fiat. Uang fiat rentan terhadap penurunan nilai karena nilai nominalnya tidak sebanding dengan nilai fisiknya. Lalu apakah ada mata uang yang “aman” terhadap penurunan nilai.
Kalaupun ada, jawabannya adalah Dinar. Dinar memiliki nilai yang stabil sepanjang masa. Bayangkan saja, nilai satu dinar sekarang, yaitu 4,25 gram emas 22 karat adalah sama persis dengan satu dinar pada zaman khalifah Umar Bin Khattab. Hal itu terjadi karena nilai nominal sama dengan nilai intristiknya.
Bahkan nilai tukar Dinar terhadap uang fiat terus meningkat. Akan tetapi sebenarnya bukan Dinar yang meningkat, tetapi nilai uang fiat yang teris melemah. Misalkan saja pada nilai satu Dinar pada bulan Februari 2009 telah mencapai kisaran Rp.1.600.000, bandingkan dengan nilai mata uang ini pada saat November 2008 yang mencapai Rp.1.300.000. Hal ini berarti hanya dalam waktu tiga bulan nilainya bisa naik hampir 30%.
Hal itu hanya untuk hitungan jangka pendek. Dalam jangka panjang, kita akan memperoleh data yang mencengangkan. Trend harga Dinar dalam satu decade ternyata naik sekitar 433,11% (Gerai Dinar, 2009). Dalam hal ini dapat disimpulkan bahwa investasi Dinar memang cocok untuk investasi jangka panjang atau investasi jangka pendek dengan rentang minimal enam bulan sampai setahun. Jadi jangan tergoda untuk melepaskan Dinar dalam jangka waktu yang relatif pendek karena sewaktu-waktu nilainya juga akan terus meningkat.
5 cara mengukur diri (K.H Abdullah Gymnastiar)
Ada 5 cara mengukur diri sendiri, yaitu memperbanyak tafakur diri, mempunyai cermin diri, berguru pada yang ahli, memanfaatkan orang yang membenci kita, dan tafakuri hal-hal yang terjadi di sekitar kita. Karena pada saat ceramah, saya datang terlambat, maka 5 poin yang akan saya uraikan mungkin tidak akan membuat teman-teman puas. Oleh karena itu sebelumnya saya mohon maaf atas segala keterbatasan yang ada.
1. Memperbanyak tafakur diri.
Tafakur adalah perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Hasil tafakur kita merupakan penyaksian terhadap kebesaran-Nya yang diperlihatkan kepada jiwa dan kerohanian kita secara zhahir dan batin untuk kemudian kita aktualisasikan dan amalkan sebagai suatu pengabdian suci kepada Allah SWT. Dapat kita katakana bahwa kebaikan dunia dan agama tergantung pada kesempurnaan tafakkur. Ali bin Abi Thalib ra. telah berkata, “Tidak ada ibadah sepenting tafakur“. Orang bijak mengatakan, “Bertafakur adalah pelita kalbu. Bila ia pergi tiada lagi cahaya yang meneranginya“.(Buletin Mimbar Jum’at No. 43 Th. XXII - 24 Oktober 2008). Salah satu contoh tafakur adalah menyendiri dan introspeksi pada apa-apa yang sudah kita lakukan. Menyadari setiap kesalahan yang sudah kita lakukan, agar ke depannya kita mampu berbuat lebih baik.
2. Milikilah cermin diri. Maksudnya disini adalah jadikanlah sahabat dan orang-orang terdekat kita sebagai pengingat kita ketika kita melakukan kesalahan. Jadikanlah mereka sebagai cermin diri kita. Ibarat cermin yang mempunyai fungsi untuk memperlihatkan kesalahan pada tampilan rupa kita, mintalah mereka untuk memperlihatkan kesalahan-kesalahan kita. Pada hakikatnya cermin selalu memperlihatkan apa yang ada pada diri kita. Kalaupun apa yang terlihat pada diri kita buruk atau janggal, maka kita bisa memperbaikinya bukan. Begitu pula sahabat ataupun orang sekitar kita. Dengan hakikat cermin tadi, maka setiap kesalahan yang telah diingatkan,bisa kita perbaiki.
3. Berguru pada yang ahli. Bergurulah pada yang ahli, seperti ulama maupun para cendikia ataupun orang yang kita anggap lebih baik dari kita untuk bisa kita jadikan acuan agar bisa memperbaiki dan memperbaharui sikap dan perbuatan kita. Cara lain yang bisa kita lakukan adalah dengan sering datang ke majlis ta'lim atau maj'lis ilmu yang ada.
4. Manfaatkan orang yang membenci kita. Orang yang membenci kita akan dengan sangat tulus mengkritik dan mengkoreksi apa yang kita lakukan. Bahkan mereka mempunyai keikhlasan untuk menyelidiki keburukan kita. Setiap kritikan yang mereka lontarkan, hendaknya menjadi suatu introspeksi bagi diri kita untuk memperbaiki diri. Tidak usah melihat mereka sebagai musuh kita, sehingga kita mengabaikan apa yang mereka katakan tentang kita. Kuncinya disini adalah kita tidak usah membela diri. Cukup dengarkan, bertobat, dan perbaiki diri.
5. Tafakuri banyak kejadian yang terjadi. Ambil contoh kasus di sekitar kita, misalkan kasus cicak vs buaya yang sekarang sedang marak dibicarakan. Lalu ambil sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri kita untuk memperbaiki diri. Setiap kejadian yang ada, hendakya dijadikan sebagai bahan evaluasi diri, bukan hanya untuk dibicarakan atau dikomentari dengan negatif saja. Banyak kejadian yang bisa dijadikan pelajaran hidup.
Selain 5 poin di atas,ada hal lain yang harus kita prioritaskan. Kita harus bisa membersihkan diri kita. Bulatkan hati kita agar tidak menggantungkan dan berharap terlalu banyak pada manusia. Jika kita mau sesuatu, mintalah dulu pada Allah, karena hanya Allah lah satu-satunya penolong. Allah lah Dzat Maha Kaya yang mengatur rejeki kita. Jadi mintalah pada Allah agar kita bisa memperoleh harta yang bersih dan terhindar dari dosa. Putuskan hati kita dari keinginan dihargai dan dihormati orang lain. Kita hanya akan lelah jika harus melakukan sesuatu karena berharap pujian dan pengakuan dari manusia. Rugi, karena tidak ada nilainya di mata Allah. Cukup perbuat hal yang baik dan lupakan. Lillahi Ta'alla.
Demikian isi ceramah Aa Gym yang disampaikan beliau pada hari Minggu 8 November 2009 di Mesjid Istiqlal Jakarta. Bila ada kekurangan mengenai apa yang saya sampaikan, saya mohon maaf, karena kebenaran itu datang dari Allah, dan kesalahan itu mutlak datang dari diri saya sendiri.Wslm.
1. Memperbanyak tafakur diri.
Tafakur adalah perenungan terhadap tanda-tanda kebesaran Allah SWT. Hasil tafakur kita merupakan penyaksian terhadap kebesaran-Nya yang diperlihatkan kepada jiwa dan kerohanian kita secara zhahir dan batin untuk kemudian kita aktualisasikan dan amalkan sebagai suatu pengabdian suci kepada Allah SWT. Dapat kita katakana bahwa kebaikan dunia dan agama tergantung pada kesempurnaan tafakkur. Ali bin Abi Thalib ra. telah berkata, “Tidak ada ibadah sepenting tafakur“. Orang bijak mengatakan, “Bertafakur adalah pelita kalbu. Bila ia pergi tiada lagi cahaya yang meneranginya“.(Buletin Mimbar Jum’at No. 43 Th. XXII - 24 Oktober 2008). Salah satu contoh tafakur adalah menyendiri dan introspeksi pada apa-apa yang sudah kita lakukan. Menyadari setiap kesalahan yang sudah kita lakukan, agar ke depannya kita mampu berbuat lebih baik.
2. Milikilah cermin diri. Maksudnya disini adalah jadikanlah sahabat dan orang-orang terdekat kita sebagai pengingat kita ketika kita melakukan kesalahan. Jadikanlah mereka sebagai cermin diri kita. Ibarat cermin yang mempunyai fungsi untuk memperlihatkan kesalahan pada tampilan rupa kita, mintalah mereka untuk memperlihatkan kesalahan-kesalahan kita. Pada hakikatnya cermin selalu memperlihatkan apa yang ada pada diri kita. Kalaupun apa yang terlihat pada diri kita buruk atau janggal, maka kita bisa memperbaikinya bukan. Begitu pula sahabat ataupun orang sekitar kita. Dengan hakikat cermin tadi, maka setiap kesalahan yang telah diingatkan,bisa kita perbaiki.
3. Berguru pada yang ahli. Bergurulah pada yang ahli, seperti ulama maupun para cendikia ataupun orang yang kita anggap lebih baik dari kita untuk bisa kita jadikan acuan agar bisa memperbaiki dan memperbaharui sikap dan perbuatan kita. Cara lain yang bisa kita lakukan adalah dengan sering datang ke majlis ta'lim atau maj'lis ilmu yang ada.
4. Manfaatkan orang yang membenci kita. Orang yang membenci kita akan dengan sangat tulus mengkritik dan mengkoreksi apa yang kita lakukan. Bahkan mereka mempunyai keikhlasan untuk menyelidiki keburukan kita. Setiap kritikan yang mereka lontarkan, hendaknya menjadi suatu introspeksi bagi diri kita untuk memperbaiki diri. Tidak usah melihat mereka sebagai musuh kita, sehingga kita mengabaikan apa yang mereka katakan tentang kita. Kuncinya disini adalah kita tidak usah membela diri. Cukup dengarkan, bertobat, dan perbaiki diri.
5. Tafakuri banyak kejadian yang terjadi. Ambil contoh kasus di sekitar kita, misalkan kasus cicak vs buaya yang sekarang sedang marak dibicarakan. Lalu ambil sebagai bahan evaluasi dan introspeksi diri kita untuk memperbaiki diri. Setiap kejadian yang ada, hendakya dijadikan sebagai bahan evaluasi diri, bukan hanya untuk dibicarakan atau dikomentari dengan negatif saja. Banyak kejadian yang bisa dijadikan pelajaran hidup.
Selain 5 poin di atas,ada hal lain yang harus kita prioritaskan. Kita harus bisa membersihkan diri kita. Bulatkan hati kita agar tidak menggantungkan dan berharap terlalu banyak pada manusia. Jika kita mau sesuatu, mintalah dulu pada Allah, karena hanya Allah lah satu-satunya penolong. Allah lah Dzat Maha Kaya yang mengatur rejeki kita. Jadi mintalah pada Allah agar kita bisa memperoleh harta yang bersih dan terhindar dari dosa. Putuskan hati kita dari keinginan dihargai dan dihormati orang lain. Kita hanya akan lelah jika harus melakukan sesuatu karena berharap pujian dan pengakuan dari manusia. Rugi, karena tidak ada nilainya di mata Allah. Cukup perbuat hal yang baik dan lupakan. Lillahi Ta'alla.
Demikian isi ceramah Aa Gym yang disampaikan beliau pada hari Minggu 8 November 2009 di Mesjid Istiqlal Jakarta. Bila ada kekurangan mengenai apa yang saya sampaikan, saya mohon maaf, karena kebenaran itu datang dari Allah, dan kesalahan itu mutlak datang dari diri saya sendiri.Wslm.
Syariah vs Konvensional
Sebenarnya apa yang membedakan sistem perbankan syariah dan konvensional?Apakah hanya dari segi akad (perjanjian)??Mangapa perbankan syariah seolah-olah dirasakan lebih riba dibandingkan perbankan konvensional??Mungkin sekilas sama, tetapi tahukah bahwa sebenarnya ada perbedaan antara perbankan syariah dan konvensional yang implikasinya sangat besar??Untuk menjawab pertanyaan tersebut, saya mengutip tulisan dari salah seorang sahabat yaitu Qurrah Ayuniyyah. Qurrah Ayuniyyah adalah seorang sahabat yang sekarang sedang menempuh ilmu ekonomi islam di salah satu perguruan tinggi di Malaysia.Berikut penjelasannya.
” Pertama tentang sistem perbankan syariah yang dirasakan seolah2 “lebih riba” (lebih mahal) daripada perbankan konvensional.
Dalam menyalurkan dana kepada masyarakat, tentunya banyak faktor yang mempengaruhi bank untuk melakukan hal tersebut. Salah satunya adalah faktor permintaan (demand) dan penawaran (supply).
Bank dapat menyalurkan dana kepada para pengusaha (investor) atau pihak defisit (yang membutuhkan dana), karena memang ada dana dari pihak surplus dalam bentuk tabungan atau deposito berjangka (Dana Pihak Ketiga/DPK). Nah, sekarang kita lihat data perbankan nasional. Bandingkan berapa jumlah dana tabungan dan deposito masyarakat di bank konvensional dan bank syariah. Di bank konvensional, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang ada di bank syariah per Agustus 2010 hanya Rp 1,4 trilyun, sedangkan DPK yang ada di bank konvensional mencapai Rp 2 ribu trilyun.. (berapa ribu kali lipat tuh?). Otomatis, dana yang tersedia di bank syariah yang dapat disalurkan kepada masyarakat pun jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bank konvensional. Sedangkan, permintaan pembiayaan (kredit dlm istilah konvensionalnya) tinggi, otomatis “harga” yang dirasakan oleh masyarakat pun menjadi mahal. Ini terkait dengan bisnis semata. Jadi saat penawaran fund (DPK bank syariah) sedikit, sedangkan permintaan pembiayaan banyak, ya otomatis nilai pembiayaan akan meningkat.
Oleh karena itu, yuk tingkatin tabungan dan deposito masyarakat ke bank syariah agar bank syariah lebih bisa bersaing.
Ka Irvan punya account kan di bank syariah? :)
Lalu yang kedua terkait masalah akad. Apa bedanya jual beli (murabahah) dengan bunga?
Dalam syariah Islam, beda akad jelas akan berbeda konsekuensi. Sebagai ilustrasi, apa bedanya seseorang yang melakukan (maaf) hubungan suami dengan istri yang syah, dengan seseorang yang melakukan hubungan dengan seorang pelacur? Perbedaannya di “akad nikah” kan? Satunya dengan menggunakan akad nikah, satu lagi tanpa akad nikah. Jika menggunakan akad nikah menjadi ibadah, dan jika tidak menggunakan akad nikah menjadi zina.
Jadi jelas, akad memegang peranan besar dalam syariah.
Jika dari awal akadnya adalah utang (pinjaman), maka jelas tidak boleh ada tambahan yang dipersyaratkan di awal akad. Nah inilah akad yang digunakan oleh bank konvensional, yaitu utang. Maka tidak boleh ada tambahannya.. Tapi kalau akadnya adalah jual beli, maka apakah dilarang seorang penjual untuk mengambil keuntungan (dalam hal ini bank syariah)? Tentunya boleh donk :)
Sekarang kita lihat data lagi.
LDR (loan to debt ratio) atau rasio uang yang disalurkan terhadap sektor riil dari bank konvensional rata2 secara nasional adalah kurang dari 50 persen. Artinya, hanya sekitar 50 persen DPK (tabungan dan deposito masyarakat) yang disalurkan kepada sektor riil, sedangkan sisanya dilarikan ke sektor keuangan. Akibatnya, sektor keuangan akan tumbuh lebih cepat daripada sektor riil.
Apa yg terjadi? Inflasi.
Beda sama akad bank syariah yg tkait sektor riil semuanya. Jd lbh stabil dr sisi inflasi. Artinya, mau “murah” tp merugikan, yaitu inflasi? Atau sdikit lbh mahal tp ga inflasi?
Kalo mau murah bank syariah, ya pd nabung di syariah lah :)
Murah secara individu, tp rugi secara kolektif. Itu yg didapet dg konvensional.
Lalu ada penelitian IMF terbaru via Dreide kalo ga salah (agustus 2010), membuktikan bank syariah lbh tahan krisis dr bank konvensional.
Jadi, sekilas seolah2 mirip, tp perbedaan implikasinya beda banget.
Itulah hebatnya akad syariah :)
Ibarat orang di Kapal.. Kalau dia tinggal di dasar kapal, lalu dia merasa haus dan ingin minum. Cara tergampang ya bolongin kapal.
Dia untung tp bikin kapal tenggelam.
Bandingkan kalau dia hrs ke atas kapal dulu, nimba air dr atas kapal. Jelas capek, tapi kapal ga akan tenggelam.
Intinya, yuk dukung bank syariah secara menyeluruh. Karena banyak kasus, kadang2 pengusaha yg minta pembiayaan bank syariah, uang di bank konvensionalnya lbh banyak daripada uang dia di bank syariah.”
(Ayuniyyah, 2010)
” Pertama tentang sistem perbankan syariah yang dirasakan seolah2 “lebih riba” (lebih mahal) daripada perbankan konvensional.
Dalam menyalurkan dana kepada masyarakat, tentunya banyak faktor yang mempengaruhi bank untuk melakukan hal tersebut. Salah satunya adalah faktor permintaan (demand) dan penawaran (supply).
Bank dapat menyalurkan dana kepada para pengusaha (investor) atau pihak defisit (yang membutuhkan dana), karena memang ada dana dari pihak surplus dalam bentuk tabungan atau deposito berjangka (Dana Pihak Ketiga/DPK). Nah, sekarang kita lihat data perbankan nasional. Bandingkan berapa jumlah dana tabungan dan deposito masyarakat di bank konvensional dan bank syariah. Di bank konvensional, Dana Pihak Ketiga (DPK) yang ada di bank syariah per Agustus 2010 hanya Rp 1,4 trilyun, sedangkan DPK yang ada di bank konvensional mencapai Rp 2 ribu trilyun.. (berapa ribu kali lipat tuh?). Otomatis, dana yang tersedia di bank syariah yang dapat disalurkan kepada masyarakat pun jauh lebih sedikit dibandingkan dengan bank konvensional. Sedangkan, permintaan pembiayaan (kredit dlm istilah konvensionalnya) tinggi, otomatis “harga” yang dirasakan oleh masyarakat pun menjadi mahal. Ini terkait dengan bisnis semata. Jadi saat penawaran fund (DPK bank syariah) sedikit, sedangkan permintaan pembiayaan banyak, ya otomatis nilai pembiayaan akan meningkat.
Oleh karena itu, yuk tingkatin tabungan dan deposito masyarakat ke bank syariah agar bank syariah lebih bisa bersaing.
Ka Irvan punya account kan di bank syariah? :)
Lalu yang kedua terkait masalah akad. Apa bedanya jual beli (murabahah) dengan bunga?
Dalam syariah Islam, beda akad jelas akan berbeda konsekuensi. Sebagai ilustrasi, apa bedanya seseorang yang melakukan (maaf) hubungan suami dengan istri yang syah, dengan seseorang yang melakukan hubungan dengan seorang pelacur? Perbedaannya di “akad nikah” kan? Satunya dengan menggunakan akad nikah, satu lagi tanpa akad nikah. Jika menggunakan akad nikah menjadi ibadah, dan jika tidak menggunakan akad nikah menjadi zina.
Jadi jelas, akad memegang peranan besar dalam syariah.
Jika dari awal akadnya adalah utang (pinjaman), maka jelas tidak boleh ada tambahan yang dipersyaratkan di awal akad. Nah inilah akad yang digunakan oleh bank konvensional, yaitu utang. Maka tidak boleh ada tambahannya.. Tapi kalau akadnya adalah jual beli, maka apakah dilarang seorang penjual untuk mengambil keuntungan (dalam hal ini bank syariah)? Tentunya boleh donk :)
Sekarang kita lihat data lagi.
LDR (loan to debt ratio) atau rasio uang yang disalurkan terhadap sektor riil dari bank konvensional rata2 secara nasional adalah kurang dari 50 persen. Artinya, hanya sekitar 50 persen DPK (tabungan dan deposito masyarakat) yang disalurkan kepada sektor riil, sedangkan sisanya dilarikan ke sektor keuangan. Akibatnya, sektor keuangan akan tumbuh lebih cepat daripada sektor riil.
Apa yg terjadi? Inflasi.
Beda sama akad bank syariah yg tkait sektor riil semuanya. Jd lbh stabil dr sisi inflasi. Artinya, mau “murah” tp merugikan, yaitu inflasi? Atau sdikit lbh mahal tp ga inflasi?
Kalo mau murah bank syariah, ya pd nabung di syariah lah :)
Murah secara individu, tp rugi secara kolektif. Itu yg didapet dg konvensional.
Lalu ada penelitian IMF terbaru via Dreide kalo ga salah (agustus 2010), membuktikan bank syariah lbh tahan krisis dr bank konvensional.
Jadi, sekilas seolah2 mirip, tp perbedaan implikasinya beda banget.
Itulah hebatnya akad syariah :)
Ibarat orang di Kapal.. Kalau dia tinggal di dasar kapal, lalu dia merasa haus dan ingin minum. Cara tergampang ya bolongin kapal.
Dia untung tp bikin kapal tenggelam.
Bandingkan kalau dia hrs ke atas kapal dulu, nimba air dr atas kapal. Jelas capek, tapi kapal ga akan tenggelam.
Intinya, yuk dukung bank syariah secara menyeluruh. Karena banyak kasus, kadang2 pengusaha yg minta pembiayaan bank syariah, uang di bank konvensionalnya lbh banyak daripada uang dia di bank syariah.”
(Ayuniyyah, 2010)
Langganan:
Komentar (Atom)